Barito Kuala, 8 Februari 2024
Apa itu ketidaknormalan?
Apakah anda pernah mendengar orang-orang di sekitar Anda
berkata kepada seseorang, Eh kamu ga normal ya! Dasar orang ga normal, atau mungkin kita sendiri pernah berkata seperti ini
terhadap diri kita sendiri? Atau mungkin yang paling sering terjadi di kalangan
masyarakat pada umumnya adalah fenomena mendiagnosa diri sendiri tanpa bantuan
seseorang yang ahli di bidangnya (self-diagnose). Misalnya banyak dari
kita merasakan "sesuatu", yang mungkin berkaitan dengan cara
berpikir, kepribadian atau mungkin yang berkaitan dengan perilaku (behavior)
kita sendiri.
Pada dasarnya,
merasakan dan aware dengan "sesuatu" yang terjadi pada diri
kita merupakan hal yang bagus. Hal tersebut menandakan bahwa kita masih
mempunyai sensitivitas terhadap diri kita dan apa yang kita rasakan.
Hal-hal yang
berkaitan dengan abnormalitas sebenarnya adalah yang senantiasa dipelajari
secara mendalam dan seksama oleh orang-orang yang memang berkecimpung dalam
dunia kesehatan mental seperti, psikolog, psikiater, ilmuwan psikologi dan
konselor. Dalam kajian psikologi, psikologi abnormal biasanya dipelajari dan
dikaji secara mendalam dalam mata kuliah psikologi abnormal. Hal tersebut
disebabkan akan adanya perbedaan paradigma (dari latar belakang budaya satu
dibandingkan dengan budaya yang lainnya) terhadap hal apa saja yang dikatakan
normal dan mana yang dikatakan abnormal. Dengan kata lain, this issue
is not that easy to define!
Kita dapat mengambil contoh dari pengelompokan orang-orang
berdasarkan skor IQ (Intelligence Quotient) pada konteks penduduk
Indonesia. IQ manusia dapat dikelompokkan ke dalam beberapa pembagian
berdasarkan skala yang dibuat oleh David Weschler seperti berikut ini:
|
³ 130 120 – 129 110 – 119 90 – 109 80 – 89 70 – 79 69 and below |
Sangat superior Superior Diatas rata-rata Rata-rata Dibawah rata-rata Borderline Sangat rendah |
Jika kita
beranggapan bahwa IQ rata-rata penduduk Indonesia berada pada range 90
-- 109. Maka dapat disimpulkan bahwa individu/penduduk Indonesia yang mempunyai
IQ di atas kisaran tersebut adalah orang-orang yang kecerdasannya di atas
rata-rata, superior atau bahkan sangat superior. Dapat kita contohkan Bapak BJ
Habibie yang diketahui merupakan seorang yang jenius di bidang aviasi dan
fisika. Jika kita lihat dari kacamata Psikologi Abnormal secara gamblang maka
kita dapat simpulkan bahwa beliau bukanlah individu yang "normal"
dari skor IQ jika dibandingkan dengan kebanyakan penduduk Indonesia pada
umumnya.
Hal di atas perlu ditelaah dan memerlukan penjelasan lebih
lanjut. Oleh sebab itulah, di awal penulisan telah dinyatakan bahwa untuk
menyimpulkan apakah suatu fenomena psikologis dikatakan normal atau tidak,
bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Jika kita merujuk kepada skor IQ Bapak
Bj Habibie, maka para ahli biasanya akan memberikan tambahan informasi bahwa
"abnormalitas" tersebut berada pada sayap kanan dalam konteks sebaran
pada kurva normal.
Hal ini akan berbanding terbalik, jika kita mengambil contoh
lain seperti individu yang mengidap down syndrome (Mongoloid Face) yang
biasanya juga disebut dengan sindrom seribu wajah; dikaitkan dengan disabilitas
intelektual. Individu seperti ini biasanya mempunyai IQ yang berada pada
rentang 50 -- 70 pada retardasi mental yang ringan, 35 -- 49 pada retardasi
mental yang menengah dan 20 -- 34 pada pengidap down syndrome berat.
Ketidaknormalan pada kemampuan intelektualitas individu yang mengidap down syndrome
akan diletakkan pada sayap kiri dalam konteks sebaran kurva normal. Perhatikan
ilustrasi berikut ini:
(Bersambung ke bagian 2)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar