Barito Kuala, 9 Februari 2024
Indikator Abnormalitas
Untuk
menentukan apakah seseorang mengalami gangguan mental atau psikologis yang
dapat dikategorikan sebagai suatu disorder atau kelainan, pertama-tama
kita perlu memahami apa yang dimaksud dengan gangguan psikologis yang
menyebabkan ketidaknormalan. Menurut Asosiasi Psikiater Amerika (2000),
gangguan psikologis (psychological disorder) didefinisikan sebagai:
"Sebuah
pola pikir, perasaan, atau perilaku yang menyebabkan penderitaan pribadi yang
signifikan, gangguan signifikan dalam kehidupan sehari-hari, dan/atau risiko
bahaya yang signifikan, yang mana ketiganya tidak lazim untuk konteks dan
budaya dimana hal tersebut muncul."
Poin
pentingnya adalah munculnya distres (stres negatif) yang sangat signifikan
pada individu, ketidakberdayaan yang signifikan dalam melakukan
aktivitas sehari-hari dan/atau perilaku yang dapat melukai atau
membahayakan diri sendiri yang berkaitan dengan konteks budaya setempat.
Distress
dapat berupa kesedihan, tekanan dan penderitaan yang sangat berat dan
mengganggu. Semua orang pernah mengalaminya dalam hidup, namun yang membedakan
orang normal dan abnormal adalah bagaimana mereka merespons situasi penyebab distress.
Orang abnormal cenderung memberikan reaksi berlebihan atau di luar konteks,
seperti menangis berlebihan, menceritakan kecemasan secara berulang, atau
melampiaskan emosi negatif pada orang lain.
Perlu
digarisbawahi bahwa distress berlebihan tidak selalu menjadi indikator
gangguan psikologis. Ada kasus tanpa distress pun seseorang bisa
mengalami gangguan, meski hal ini jarang terjadi.
Indikator
lain adalah ketidakberdayaan dalam kegiatan sehari-hari seperti
pekerjaan, hobi, atau menjalin hubungan. Contohnya, seorang gadis yang
tiba-tiba sangat ketakutan dan tidak bisa berinteraksi normal saat ada pemuda
yang melamarnya, padahal dia dikenal taat beragama dan hati-hati. Tanpa bantuan
ahli, dia bisa mengalami kesulitan dalam hubungan lebih lanjut.
Indikator
penting lainnya adalah risiko melukai atau membahayakan diri sendiri dan
orang lain. Contohnya kebiasaan menyetir overspeed, overdosis obat, atau
melukai diri sendiri.
Faktor
terakhir adalah norma budaya dan kearifan lokal di mana perilaku tersebut
muncul. Misalnya orang India yang sering menganggukkan kepala saat
berinteraksi, hal ini wajar di sana tapi tidak di Indonesia. Begitu juga
kebiasaan makan sambil berdecap yang sopan di Jepang, Korea, dan Cina, tapi
dianggap kurang sopan di Indonesia. Thanks for reading!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar