Kamis, 08 Februari 2024

KAMU NORMAL? (Bag.1)

 Barito Kuala, 9 Februari 2024


Indikator Abnormalitas

Untuk menentukan apakah seseorang mengalami gangguan mental atau psikologis yang dapat dikategorikan sebagai suatu disorder atau kelainan, pertama-tama kita perlu memahami apa yang dimaksud dengan gangguan psikologis yang menyebabkan ketidaknormalan. Menurut Asosiasi Psikiater Amerika (2000), gangguan psikologis (psychological disorder) didefinisikan sebagai:

"Sebuah pola pikir, perasaan, atau perilaku yang menyebabkan penderitaan pribadi yang signifikan, gangguan signifikan dalam kehidupan sehari-hari, dan/atau risiko bahaya yang signifikan, yang mana ketiganya tidak lazim untuk konteks dan budaya dimana hal tersebut muncul."

Poin pentingnya adalah munculnya distres (stres negatif) yang sangat signifikan pada individu, ketidakberdayaan yang signifikan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan/atau perilaku yang dapat melukai atau membahayakan diri sendiri yang berkaitan dengan konteks budaya setempat.

Distress dapat berupa kesedihan, tekanan dan penderitaan yang sangat berat dan mengganggu. Semua orang pernah mengalaminya dalam hidup, namun yang membedakan orang normal dan abnormal adalah bagaimana mereka merespons situasi penyebab distress. Orang abnormal cenderung memberikan reaksi berlebihan atau di luar konteks, seperti menangis berlebihan, menceritakan kecemasan secara berulang, atau melampiaskan emosi negatif pada orang lain.

Perlu digarisbawahi bahwa distress berlebihan tidak selalu menjadi indikator gangguan psikologis. Ada kasus tanpa distress pun seseorang bisa mengalami gangguan, meski hal ini jarang terjadi.

Indikator lain adalah ketidakberdayaan dalam kegiatan sehari-hari seperti pekerjaan, hobi, atau menjalin hubungan. Contohnya, seorang gadis yang tiba-tiba sangat ketakutan dan tidak bisa berinteraksi normal saat ada pemuda yang melamarnya, padahal dia dikenal taat beragama dan hati-hati. Tanpa bantuan ahli, dia bisa mengalami kesulitan dalam hubungan lebih lanjut.

Indikator penting lainnya adalah risiko melukai atau membahayakan diri sendiri dan orang lain. Contohnya kebiasaan menyetir overspeed, overdosis obat, atau melukai diri sendiri.

Faktor terakhir adalah norma budaya dan kearifan lokal di mana perilaku tersebut muncul. Misalnya orang India yang sering menganggukkan kepala saat berinteraksi, hal ini wajar di sana tapi tidak di Indonesia. Begitu juga kebiasaan makan sambil berdecap yang sopan di Jepang, Korea, dan Cina, tapi dianggap kurang sopan di Indonesia. Thanks for reading!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MELUKAI DIRI MEMBERIKANKU KEPUASAN

 Barito Kuala, 9 Februari 2024 Tahu Dengan Istilah Self-Harm ? Apakah teman-teman pernah melihat atau mendengar orang-orang yang melukai ata...