Barito Kuala, 9 Februari 2024
Apakah
teman-teman pernah melihat atau mendengar orang-orang yang melukai atau
menyakiti dirinya sendiri dengan kesadaran? Misalnya dengan melukai tangan
dengan silet/cutter, membenturkan kepala ke dinding atau benda tumpul,
menjambak rambut sendiri, memukul-mukulkan sesuatu ke kepala dan bentuk
lainnya. Nah, perilaku sengaja mencelakai diri sendiri ini disebut dengan
istilah self-harm dalam bahasa Inggris.
Perilaku
self-harm dalam ilmu kesehatan mental dan psikologi digolongkan sebagai
suatu bentuk perilaku menyimpang dan abnormal. Hal ini dikarenakan pelaku self-harm
didorong oleh motivasi mendapatkan kepuasan pribadi melalui tindakan menyakiti
tubuhnya sendiri. Jika dibiarkan tanpa penanganan psikologis yang tepat,
perilaku self-harm yang berulang dapat berujung pada tindakan melukai
diri hingga taraf yang sangat membahayakan, bahkan mengancam nyawa si pelaku.
Berdasarkan
tingkat keparahan dan frekuensinya, para ahli telah mengkategorikan self-harm
menjadi 3 jenis, yaitu:
- Major self-mutilation,
bentuk self-harm paling parah yang dapat mengancam nyawa,
seperti memotong jari tangan atau bagian tubuh lain.
- Streotypic self-injury,
melukai diri secara berulang meskipun tingkat keparahannya tidak selalu
ekstrem seperti jenis pertama. Contohnya kebiasaan membenturkan kepala ke
dinding atau menjambak rambut sendiri yang kerap dilakukan individu
pengidap gangguan autisme.
- Superficial
self-mutilation, bentuk self-harm paling ringan
namun paling umum ditemukan di masyarakat dibandingkan dua jenis
sebelumnya. Misalnya menyayat permukaan kulit atau menusuk kulit dengan
jarum. Meski tergolong ringan, tetap perlu mendapat perhatian serius.
Beberapa
faktor yang diduga memicu munculnya kecenderungan self-harm pada
seseorang antara lain trauma psikologis di masa lalu, kondisi gangguan mental
tertentu seperti depresi berat, skizofrenia, atau psikosis, serta kesulitan
mengekspresikan perasaan dan emosi secara sehat. Self-harm juga jamak ditemukan
pada individu yang telah lama menyimpan tekanan batin dan permasalahan
psikologis dalam jangka waktu panjang, sehingga memberi efek mengganggu pada
alam bawah sadarnya.
Demikian
pemaparan singkat mengenai fenomena self-harm dari sudut pandang ilmu
psikologi dan kesehatan mental. Semoga informasi ini dapat memberi tambahan
wawasan dan pencerahan bagi kita semua. Terima kasih.






