Kamis, 08 Februari 2024

MELUKAI DIRI MEMBERIKANKU KEPUASAN

 Barito Kuala, 9 Februari 2024


Tahu Dengan Istilah Self-Harm?

Apakah teman-teman pernah melihat atau mendengar orang-orang yang melukai atau menyakiti dirinya sendiri dengan kesadaran? Misalnya dengan melukai tangan dengan silet/cutter, membenturkan kepala ke dinding atau benda tumpul, menjambak rambut sendiri, memukul-mukulkan sesuatu ke kepala dan bentuk lainnya. Nah, perilaku sengaja mencelakai diri sendiri ini disebut dengan istilah self-harm dalam bahasa Inggris.

Perilaku self-harm dalam ilmu kesehatan mental dan psikologi digolongkan sebagai suatu bentuk perilaku menyimpang dan abnormal. Hal ini dikarenakan pelaku self-harm didorong oleh motivasi mendapatkan kepuasan pribadi melalui tindakan menyakiti tubuhnya sendiri. Jika dibiarkan tanpa penanganan psikologis yang tepat, perilaku self-harm yang berulang dapat berujung pada tindakan melukai diri hingga taraf yang sangat membahayakan, bahkan mengancam nyawa si pelaku.

Berdasarkan tingkat keparahan dan frekuensinya, para ahli telah mengkategorikan self-harm menjadi 3 jenis, yaitu:

  1. Major self-mutilation, bentuk self-harm paling parah yang dapat mengancam nyawa, seperti memotong jari tangan atau bagian tubuh lain.
  2. Streotypic self-injury, melukai diri secara berulang meskipun tingkat keparahannya tidak selalu ekstrem seperti jenis pertama. Contohnya kebiasaan membenturkan kepala ke dinding atau menjambak rambut sendiri yang kerap dilakukan individu pengidap gangguan autisme.
  3. Superficial self-mutilation, bentuk self-harm paling ringan namun paling umum ditemukan di masyarakat dibandingkan dua jenis sebelumnya. Misalnya menyayat permukaan kulit atau menusuk kulit dengan jarum. Meski tergolong ringan, tetap perlu mendapat perhatian serius.

Beberapa faktor yang diduga memicu munculnya kecenderungan self-harm pada seseorang antara lain trauma psikologis di masa lalu, kondisi gangguan mental tertentu seperti depresi berat, skizofrenia, atau psikosis, serta kesulitan mengekspresikan perasaan dan emosi secara sehat. Self-harm juga jamak ditemukan pada individu yang telah lama menyimpan tekanan batin dan permasalahan psikologis dalam jangka waktu panjang, sehingga memberi efek mengganggu pada alam bawah sadarnya.

Demikian pemaparan singkat mengenai fenomena self-harm dari sudut pandang ilmu psikologi dan kesehatan mental. Semoga informasi ini dapat memberi tambahan wawasan dan pencerahan bagi kita semua. Terima kasih.


SEKILAS MEMAHAMI STRES

 Barito Kuala, 9 Februari 2024


Siapa Sih Yang Tidak Pernah Stress!

Masing-masing dari kita tentunya pernah mengalami stress. Terlepas apakah nantinya stressor (penyebab stress) tersebut akan menyebabkan kita dapat tumbuh dan berkembang jika (eustress) atau malah menjadikan kita semakin rentan dan tertekan (distress). Stress negatif memang tak diragukan lagi mempunyai dampak yang tidak baik bagi setiap individu. Sebut saja diantaranya adalah gangguan tidur, kehilangan motivasi, pada sebagian orang mungkin bertambahnya kerontokan pada rambut, memicu munculnya jerawat, dsb.

Setiap stress datang melanda, mungkin tidak setiap orang menyadari bahwa sebenarnya stress dapat dikurangi atau diatasi dengan menggunakn coping mechanism. Coping mechanism adalah strategi atau cara yang digunakan oleh seseorang untuk mengatur emosinya ketika menghadapi situasi yang sulit. Itulah sebabnya coping mechanism dapat membantu individu dalam menyesuaikan dirinya jika sedang berada pada situasi yang tidak menguntungkan dengan tujuan untuk menjaga kesehatan mental (mental health).

Coping stress terdiri dari 2 jenis, yaitu active coping and avoidant coping. Active coping adalah usaha untuk mengatasi stressor, baik efek maupun sumbernya secara langsung. Adapun, avoidant coping adalah menghindari stressor atau mengabaikan perasaan yag erkaitan dengan hal tersebut sepenuhnya.

Berikut ini beberapa contoh active coping, diantaranya adalah berbicara dengan orang yang suportif, melakukan aktivitas yang membuat rileks seperti meditasi, beribadah dsb, mencari humor pada setiap situasi yang kurang menguntungkan, berolahraga, mengambil cuti liburan, menghindari alkoloh, rokok dan mengunjungi psikolog/praktisi kesehatan mental, dll.

Adapun contoh dari avoidant coping adalah memilih kabur dari sumber stress daripada menyelesaikannya, menenangkan atau memanjakan diri secara tidak sehat hingga menyebabkan kecanduan (obat, alkohol, internet, seks menyimpang), self-harm dsb.

Semoga bermanfaat. Terima kasih.

KAMU NORMAL? (Bag.1)

 Barito Kuala, 9 Februari 2024


Indikator Abnormalitas

Untuk menentukan apakah seseorang mengalami gangguan mental atau psikologis yang dapat dikategorikan sebagai suatu disorder atau kelainan, pertama-tama kita perlu memahami apa yang dimaksud dengan gangguan psikologis yang menyebabkan ketidaknormalan. Menurut Asosiasi Psikiater Amerika (2000), gangguan psikologis (psychological disorder) didefinisikan sebagai:

"Sebuah pola pikir, perasaan, atau perilaku yang menyebabkan penderitaan pribadi yang signifikan, gangguan signifikan dalam kehidupan sehari-hari, dan/atau risiko bahaya yang signifikan, yang mana ketiganya tidak lazim untuk konteks dan budaya dimana hal tersebut muncul."

Poin pentingnya adalah munculnya distres (stres negatif) yang sangat signifikan pada individu, ketidakberdayaan yang signifikan dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan/atau perilaku yang dapat melukai atau membahayakan diri sendiri yang berkaitan dengan konteks budaya setempat.

Distress dapat berupa kesedihan, tekanan dan penderitaan yang sangat berat dan mengganggu. Semua orang pernah mengalaminya dalam hidup, namun yang membedakan orang normal dan abnormal adalah bagaimana mereka merespons situasi penyebab distress. Orang abnormal cenderung memberikan reaksi berlebihan atau di luar konteks, seperti menangis berlebihan, menceritakan kecemasan secara berulang, atau melampiaskan emosi negatif pada orang lain.

Perlu digarisbawahi bahwa distress berlebihan tidak selalu menjadi indikator gangguan psikologis. Ada kasus tanpa distress pun seseorang bisa mengalami gangguan, meski hal ini jarang terjadi.

Indikator lain adalah ketidakberdayaan dalam kegiatan sehari-hari seperti pekerjaan, hobi, atau menjalin hubungan. Contohnya, seorang gadis yang tiba-tiba sangat ketakutan dan tidak bisa berinteraksi normal saat ada pemuda yang melamarnya, padahal dia dikenal taat beragama dan hati-hati. Tanpa bantuan ahli, dia bisa mengalami kesulitan dalam hubungan lebih lanjut.

Indikator penting lainnya adalah risiko melukai atau membahayakan diri sendiri dan orang lain. Contohnya kebiasaan menyetir overspeed, overdosis obat, atau melukai diri sendiri.

Faktor terakhir adalah norma budaya dan kearifan lokal di mana perilaku tersebut muncul. Misalnya orang India yang sering menganggukkan kepala saat berinteraksi, hal ini wajar di sana tapi tidak di Indonesia. Begitu juga kebiasaan makan sambil berdecap yang sopan di Jepang, Korea, dan Cina, tapi dianggap kurang sopan di Indonesia. Thanks for reading!

KAMU NORMAL? (Bag. 1)

Barito Kuala, 8 Februari 2024



Apa itu ketidaknormalan?

Apakah anda pernah mendengar orang-orang di sekitar Anda berkata kepada seseorang, Eh kamu ga normal ya! Dasar orang ga normal, atau mungkin kita sendiri pernah berkata seperti ini terhadap diri kita sendiri? Atau mungkin yang paling sering terjadi di kalangan masyarakat pada umumnya adalah fenomena mendiagnosa diri sendiri tanpa bantuan seseorang yang ahli di bidangnya (self-diagnose). Misalnya banyak dari kita merasakan "sesuatu", yang mungkin berkaitan dengan cara berpikir, kepribadian atau mungkin yang berkaitan dengan perilaku (behavior) kita sendiri.

Pada dasarnya, merasakan dan aware dengan "sesuatu" yang terjadi pada diri kita merupakan hal yang bagus. Hal tersebut menandakan bahwa kita masih mempunyai sensitivitas terhadap diri kita dan apa yang kita rasakan.

Hal-hal yang berkaitan dengan abnormalitas sebenarnya adalah yang senantiasa dipelajari secara mendalam dan seksama oleh orang-orang yang memang berkecimpung dalam dunia kesehatan mental seperti, psikolog, psikiater, ilmuwan psikologi dan konselor. Dalam kajian psikologi, psikologi abnormal biasanya dipelajari dan dikaji secara mendalam dalam mata kuliah psikologi abnormal. Hal tersebut disebabkan akan adanya perbedaan paradigma (dari latar belakang budaya satu dibandingkan dengan budaya yang lainnya) terhadap hal apa saja yang dikatakan normal dan mana yang dikatakan abnormal. Dengan kata lain, this issue is not that easy to define!

Kita dapat mengambil contoh dari pengelompokan orang-orang berdasarkan skor IQ (Intelligence Quotient) pada konteks penduduk Indonesia. IQ manusia dapat dikelompokkan ke dalam beberapa pembagian berdasarkan skala yang dibuat oleh David Weschler seperti berikut ini:

³ 130

120 – 129

110 – 119

90 – 109

80 – 89

70 – 79

69 and below

Sangat superior

Superior

Diatas rata-rata

Rata-rata

Dibawah rata-rata

Borderline

Sangat rendah


Jika kita beranggapan bahwa IQ rata-rata penduduk Indonesia berada pada range 90 -- 109. Maka dapat disimpulkan bahwa individu/penduduk Indonesia yang mempunyai IQ di atas kisaran tersebut adalah orang-orang yang kecerdasannya di atas rata-rata, superior atau bahkan sangat superior. Dapat kita contohkan Bapak BJ Habibie yang diketahui merupakan seorang yang jenius di bidang aviasi dan fisika. Jika kita lihat dari kacamata Psikologi Abnormal secara gamblang maka kita dapat simpulkan bahwa beliau bukanlah individu yang "normal" dari skor IQ jika dibandingkan dengan kebanyakan penduduk Indonesia pada umumnya.

Hal di atas perlu ditelaah dan memerlukan penjelasan lebih lanjut. Oleh sebab itulah, di awal penulisan telah dinyatakan bahwa untuk menyimpulkan apakah suatu fenomena psikologis dikatakan normal atau tidak, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Jika kita merujuk kepada skor IQ Bapak Bj Habibie, maka para ahli biasanya akan memberikan tambahan informasi bahwa "abnormalitas" tersebut berada pada sayap kanan dalam konteks sebaran pada kurva normal.

Hal ini akan berbanding terbalik, jika kita mengambil contoh lain seperti individu yang mengidap down syndrome (Mongoloid Face) yang biasanya juga disebut dengan sindrom seribu wajah; dikaitkan dengan disabilitas intelektual. Individu seperti ini biasanya mempunyai IQ yang berada pada rentang 50 -- 70 pada retardasi mental yang ringan, 35 -- 49 pada retardasi mental yang menengah dan 20 -- 34 pada pengidap down syndrome berat. Ketidaknormalan pada kemampuan intelektualitas individu yang mengidap down syndrome akan diletakkan pada sayap kiri dalam konteks sebaran kurva normal. Perhatikan ilustrasi berikut ini:



(Bersambung ke bagian 2)


KAMU KOK HALU SIH?!

Barito Kuala, 8 Februari 2024



Kalimat seperti yang di atas, mungkin dalam keseharian kita seringkali diucapkan oleh anak-anak muda. Misalnya pada program televisi, cuplikan video pada media sosial yang kita miliki atau bahkan mungkin diucapkan oleh orang-orang yang berada disekeliling kita. Mungkin saja disaat seorang siswi sekolah menengah membayangkan kalau dia adalah pacar dari salah seorang artis korea pujaan hatinya. Atau mungkin seorang pemuda yang (maaf) memiliki ekonomi yang pas-pasan, namun mengaku dan membual kalau dia adalah anak dari seorang jutawan. Namun, seberapa banyak sih dari kita yang benar-benar paham apa yang dimaksud dengan istilah halu (baca: halusinasi)?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), halusinasi adalah pengalaman indera tanpa adanya perangsang pada alat indera yang bersangkutan, misalnya mendengar suara tanpa ada sumber suara tersebut. Adapun menurut pandangan ahli kesehatan mental kita dapat menarik satu benang merah bahwa halusinasi adalah suatu sensasi yang tercipta dalam pikiran seseorang tanpa disertai oleh sumber yang nyata. Gangguan seperti ini pada umumnya berkaitan dan mempengaruhi panca indera manusia. Kita dapat disebut sedang berhalusinasi jika kita mendengar, melihat, merasakan atau bahkan mencium suatu aroma yang pada kenyataannya tidak pernah ada. Karena hal tersebut hanya terjadi dalam pikiran orang tersebut. Bagi individu yang mengalami halusinasi, gangguan tersebut biasanya berpengaruh kuat dan tak jarang dapat menimbulkan masalah dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa istilah halusinasi yang digunakan oleh masyarakat awam sebenarnya kurang tepat penggunaannya jika hal tersebut berupa keyakinan yang salah atau menyimpang. Nah, jika demikian apa dong, istilah yang tepat? Jawabannya adalah delusi, bukan halusinasi.

Delusi juga sering diistilahkan dengan waham. Delusi adalah suatu kondisi dimana seorang individu mempercayai sesuatu yang keliru dan akan tetap mempertahankan keyakinan dan pemikirannya tersebut meskipun tidak sesuai dengan kenyataan dan banyak bukti yang mematahkannya. Delusi seringkali menyebabkan penderitanya kesulitan untuk membedakan antara kenyataan dan khayalan. Secara sekilas seorang dengan gangguan delusi terlihat sama seperti orang-orang pada umumnya. Tetapi, bila kepercayaannya pada suatu hal muncul kembali, orang tersebut akan sangat sibuk dengan pikiran dan keyakinannya sendiri sehingga menyebabkan perilakunya bisa saja berubah.

Sampai saat ini terdapat beberapa jenis waham yang tercatat, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Waham kebesaran; dimana pengidapnya percaya bahwa dia memiliki keutamaan dan kekuatan khusus yang tidak dimiliki orang lain. Misalnya seseorang yang merasa bahwa dia adalah seorang raja atau penguasa alam.
  • Waham agama; dimana individu berkeyakinan kuat terhadap agama, sehingga seringkali menabrak batasan-batasan dan hak orang lain. Orang seperti ini bisa saja berpikir bahwa dia adalah seorang nabi atau bahkan tuhan. Apakah ada yang ingat dengan kasus Lia Eden?
  • Waham curiga/kejaran; dimana seseorang merasa selalu diawasi, dibuntuti oleh "seseorang" yang berniat untuk mencelakainya.
  • Waham cemburu; individu seperti ini biasanya akan sangat mudah curiga dengan pasangannya dan selalu berpikir bahwa pasangannya selingkuh dan tidak setia. Padahal tidak ada bukti yang menunjukkan hal tersebut.
  • Waham somatik; dimana seseorang percaya bahwa dirinya mempunyai masalah fisik atau kesehatan tertentu dan berkeyakinan bahwa tidak ada orang yang mempercayainya.
  • Waham nihilistik; dimana individu berkeyakinan bahwa dirinya sudah meninggal dunia dan orang-orang di sekitarnya adalah roh-roh orang yang sudah meninggal dan sama seperti dirinya.
  • Waham erotomania; individu yang mengidapnya percaya ada orang lain (misalnya selebriti, orang penting dsb) yang mencintainya secara diam-diam.

Semoga pembahasan singkat mengenai halusinasi dan delusi ini dapat menambah pengetahuan kita semua. Terima kasih.


Rabu, 07 Februari 2024

SALAM KENAL

Bumi Seribu Sungai, 8 Februari 2024



Bismillah. Assalaamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh. Salam damai dan sejahtera untuk teman-teman semua. Perkenalkan, saya Bayu Ramadhan. Seorang yang terlahir dari rahim bumi Minangkabau tepatnya di kota Padang yang juga dikenal sebagai ibukota provinsi Sumatera Barat. Dari seorang ibu yang sederhana, mengajarkan kesederhanaan namun penuh dengan ketegasan. Seorang anak yang selalu dibimbing oleh seorang ayah yang berhati mulia nan bersahaja. Semoga Allah senantiasa memberkati mereka berdua. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang telah memilihkan keduanya sebagai orang tua sekaligus pendidik yang takkan pernah terbalaskan jasanya sampai kapanpun dan dengan cara apapun. Seorang anak dan akan selalu "kecil" demi mencari sebuah kedewasaan yang diajarkan oleh kehidupan. Seorang putra Minang yang sudah merantau dan menginjakkan kakinya kebeberapa tempat yang ada di tanah air tercinta, Indonesia. Seorang pencari keindahan ilmu yang sebentar lagi (insyaa Allah) akan menginjak umur 35 tahun pada akhir bulan dimana artikel pertama ini saya tuliskan. 

Dalam blog yang baru saja dibuat ini, saya akan mencoba untuk menuliskan hal-hal yang menajdi interest saya selama ini. Sebut saja bidang psikologi, pendidikan, parenting serta beberpa bahasa asing yang selama ini telah saya pelajari selama beberapa tahun belakangan. Sebut saja seperti bahasa Prancis, Arab, Spanyol, Rusia dan tentunya bahasa Inggris. Sebagai seorang pemula, tentunya apa yang saya tuliskan pastinya tak akan terluput dari kesalahan atau kekeliruan. Life is endless learning process and we just can learn and grow by critics, not compliments. Kalimat sederhana ini adalah kalimat yang kalau boleh saya katakan sudah menjadi moto hidup saya secara pribadi sampai sekarang. Dengan tujuan untuk terus termotivasi membenahi dan memperbaiki diri. Semoga nantinya apa yang saya dapat tuliskan tidak hanya dapat menjadi ilmu namun juga dapat menjadi inspirasi bagi rekan-rekan pembaca. Aamiin!  Bagi teman-teman yang ingin mengenal saya secara personal dapat mengunjungi dan berkorespondensi dengan saya melalui akun Instagram pribadi saya, bayu_psyveter. Terima kasih 😀

MELUKAI DIRI MEMBERIKANKU KEPUASAN

 Barito Kuala, 9 Februari 2024 Tahu Dengan Istilah Self-Harm ? Apakah teman-teman pernah melihat atau mendengar orang-orang yang melukai ata...